Benarkah Diabetes Bisa Merusak Tendon?

Foto untuk : Benarkah Diabetes Bisa Merusak Tendon?

Klikdokter.com, Jakarta Diabetes adalah suatu penyakit metabolik yang diakibatkan oleh meningkatnya kadar glukosa atau gula darah. Bicara mengenai dampak turunan dari diabetes mellitus seperti tak ada habisnya. Ada banyak gangguan kesehatan lain yang diakibatkan oleh diabetes, termasuk bisa merusak tendon jika tidak dikontrol dengan baik.

Dikutip dari WebMD, bila Anda mengidap diabetes dan merasakan sakit saat bergerak, bisa jadi ada masalah dengan tendon. Bagi Anda yang belum familiar dengan tendon, perlu diketahui bahwa tendon berbeda dengan otot.

Tendon seperti “tali” yang terbuat dari kolagen dan menghubungkan otot-otot ke tulang Anda. Tendon terdapat di seluruh tubuh, termasuk bahu, lengan, pergelangan tangan, pinggul, lutut, hingga pergelangan kaki. Nah, tendon inilah yang berjasa agar Anda senantiasa bisa bergerak.

Kaitan antara diabetes dan kerusakan tendon

Secara sederhana, memang benar diabetes dikatakan dapat merusak tendon. Apabila kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik, maka tendon akan menebal secara abnormal sehingga kehilangan kemampuan untuk menahan beban seperti kondisi normal. Lebih dari itu, meningkatnya gula darah yang drastis akan meningkatkan kecepatan gerak, yang tentunya ini bisa membuat kerusakan tendon yang Anda alami makin parah.

Ada pula permasalahan lain yang masih berkaitan dengan tendon dan kadar gula darah yang tak terkontrol. Sebagai contoh, bahu akan terasa kaku atau terasa beku akibat tendon dan ligamen yang menebal.

Ketika kondisi kadar gula darah Anda tak kunjung membaik Anda akan mengalami sejumlah kondisi. Beberapa di antaranya adalah jari-jemari dan telapak tangan yang kaku atau berubah ke arah yang tak semestinya, susah bergerak, serta kondisi mati rasa dan kesemutan terus-menerus.

Operasi dapat dijadikan opsi untuk mengatasi permasalahan tendon di atas. Namun, kerusakan tendon ini bisa terjadi lagi. Ini terbukti dalam sebuah studi yang mengatakan bahwa sepertiga penderita diabetes yang menjalani operasi tersebut kembali mengalami kerusakan tendon di kemudian hari.

Mencegah rusaknya tendon akibat diabetes

Untuk mencegah permasalahan tendon ini, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain mengontrol gula darah Anda. Menurut dr. Sara Elise Wijono, M.Res, dari KlikDokter,pencegahan dapat dilakukan dengan modifikasi gaya hidup, sebagai berikut:

● Mengurangi berat badan

Bila indeks massa tubuh (IMT) 25-29 atau lebih dari 30, maka Anda disarankan untuk menurunkan berat badan. Jika IMT Anda 24,97, berarti Anda termasuk dalam kelompok normal (tapi sudah di atas batas normal). Sehingga Anda harus mengontrol berat badan agar selalu stabil.

● Jaga asupan makanan

Asupan makanan harus dijaga sebanyak 1.000-1.200 kkal/hari. Perbanyak konsumsi sayur dan buah, kurangi karbohidrat (nasi diganti dengan kentang atau nasi merah), kurangi asupan lemak jahat seperti aneka produk daging olahan (sosis atau nugget) dan daging dengan kandungan lemak tinggi (jeroan). Selain itu hindari camilan dalam kemasan dan aneka kue.

Anda dianjurkan untuk mengonsumsi ikan, tapi hindari ikan yang digoreng. Hindari juga makanan yang digoreng dan jangan lupa kurangi kadar garam (hanya dianjurkan 1 sendok teh setiap harinya).

● Lakukan kegiatan fisik

Lakukan olahraga ringan-sedang selama 30-40 menit dalam sehari, selama 3-5 kali dalam seminggu. Berolahraga ringan-sedang bisa dalam bentuk aerobik ringan atau jalan cepat.

Jika kerusakan tendon sudah terlanjur Anda alami, dokter biasanya akan memberikan Anda obat pereda sakit seperti aspirin atau ibuprofen, penenang otot, terapi fisik, penggunaan splint (alat untuk membantu jaringan yang lemah) dan jika perlu dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan suntik steroid untuk meredakan masalah tersebut.

Karena diabetes dikatakan bisa merusak tendon, maka modifikasi gaya hidup dapat membantu Anda mengontrol gula darah. Anda pun bisa terhindar dari diabetes dan segala komplikasinya. Jika memang Anda diketahui memiliki diabetes, sebaiknya jangan absen berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dan menyeluruh.

Sikda
Pusdatinkes
E-Budgetting