Catatan Kesehatan Indonesia Sepanjang 2018

Foto untuk : Catatan Kesehatan Indonesia Sepanjang 2018

Jakarta, CNN Indonesia -- Masalah gizi buruk dan penyakit tidak menular masih menghantui Indonesia sepanjang 2018. Dua jenis penyakit ini menjadi beban kesehatan terbesar Indonesia di tahun ini. 

Di awal tahun, kabar gizi buruk dan campak datang dari Asmat, Papua. Tercatat, 76 anak meninggal dunia akibat gizi buruk dan juga campak. Pemerintah bahkan langsung mengkategorikan kasus ini dalam Kejadian Luar Biasa (KLB) dan membentuk tim khusus yang turun langsung ke Asmat.

Akses kesehatan berupa fasilitas kesehatan, tenaga medis, dan obat-obatan yang jauh dari masyarakat Asmat serta pendidikan yang rendah jadi penyebab gizi buruk dan campak mewabah di Asmat. 

Asmat boleh jadi memiliki alasan terisolir. Tapi, gizi buruk nyatanya merupakan masalah nasional yang hingga kini belum teratasi, bahkan di kota-kota besar sekalipun. Masalah gizi ini meliputi stunting (pendek/kerdil), gizi buruk (kurang gizi), dan obesitas (kelebihan gizi). 

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, mencatat bahwa Kementerian Kesehatan hanya mampu mengurangi angka stunting dari 37,2 persen menjadi 30,8 persen selama lima tahun. Sedangkan gizi buruk tak berkurang banyak, dari 19,6 persen menjadi 17,6 persen.

Di sisi lain, angka obesitas justru mengalami peningkatan dari 14,8 persen menjadi 21,8 persen. Program-program pemerintah melalui Kementerian Kesehatan di bidang gizi patut untuk dievaluasi kembali.

Perkembangan penyakit tidak menular juga patut menjadi catatan. Hampir semua penyakit tidak menular mengalami peningkatan seperti kanker, stroke, gangguan ginjal kronis, diabetes, dan hipertensi.

Penyakit ini sebenarnya dapat dicegah lantaran semuanya dapat dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat seperti kurang berolahraga, pola makan yang tidak sehat, kurang beristirahat, dan stres.

Apresiasi patut diberikan untuk Kementerian Kesehatan lantaran bisa menekan jumlah penyakit menular secara signifikan. Infeksi saluran pernapasan atas, malaria, diare, dan tuberkulosis mengalami penurunan jumlah penderita. 

Namun, tantangan masih dihadapi lantaran banyak masyarakat yang menolak pemberian vaksin untuk mencegah penyakit menular. Polemik kehalalan vaksin Measles & Rubella (MR) dan polio merupakan salah satunya. 

Majelis Ulama Indonesia sudah mengeluarkan fatwa vaksin ini boleh digunakan hingga terdapat pengganti yang halal. Pemerintah kini tengah berusaha mempercepat pengadaan vaksin yang halal agar perkembangan beberapa penyakit menular dapat dicegah.

Catatan lain seperti penemuan cacing parasit dalam produk ikan makarel kaleng hingga bahan berbahaya dalam kosmetik juga patut jadi perhatian. 

 

Selain kesehatan fisik, penyakit mental juga layak dapat perhatian. Tercatat, penyakit ini melonjak dari 1,7 persen pada 2013 menjadi 7 persen pada 2018. (ptj/asr) 

Sikda
Pusdatinkes
E-Budgetting